Selamat Datang di Blog Program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) Provinsi Sumatera Selatan, Mari kita Berkolaborasi Menuju Kota Layak Huni dan Berkelanjutan ** Redaksi Blog Program KOTAKU Provinsi Sumatera Selatan:OC-02 Provinsi Sumatera Selatan : Jl.Bandar Agung No.1005 RT.13 RW.04 Kelurahan 20 Ilir/Sekip Bendung Kota Palembang 30127 Provinsi Sumatera Selatan Telp/fax: 0711-365385 email: oc2.sumsel@gmail.com
Tampilkan postingan dengan label Ogan Komering Ulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ogan Komering Ulu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Mei 2016

Kliping: PNPM Ganti Nama jadi 'KOTAKU'

Independent Post Baturaja - Sejak dicanangkannya program PNPM Mandiri menjadi salah satu program terbaik bagi rakyat yang pernah ada di Republik ini, PNPM Mandiri ini telah beberapa kali berganti nama. "KOTAKU" begitu nama baru dimaksud.

Berawal dari nama "Program Peningkatan Kualitas Permukiman di Perkotaan (P2KP), kemudian menjadi P2KKP yaitu hanya ditambahkan hurup (K) uang berarti Kawasan. Dan sekarang berubah nama kembali menjadi "Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)". Perubahan nama tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Askot CD Mandiri kota Baturaja, Luqman Hakim kepada INPO Sabtu (14/05).

Hal ini disampaikan Luqman baru-baru ini, dia baru saja bersilaturahmi dengan Bupati Kuryana Azis, Kepala Dinas PU CK, Kaban Bappeda. Dijelaskan panjang lebar tentang program pengganti nama PNPM Mandiri Perkotaan menjadi Program KOTAKU.

Kamis, 07 April 2016

Evkin Fasilitator Sosial Sumsel - "Upgrade Diri, Berpikir out of The Box, Inovatif dan Tak Segan Berbagi"

Pembukaan Evkin oleh TL KMW Sumsel
P2KKP Sumsel - Evaluasi yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Evaluation, bermakna adalah suatu proses untuk menyediakan informasi tentang sejauh mana suatu kegiatan/program telah dicapai, bagaimana perbedaan pencapaian itu dengan standar yang telah ditentukan progam, sehingga diharapkan evaluasi yang dilakukan secara sistematis ini dapat memberikan gambaran utuh dan nyata tentang capaian program dan menjadi pijakkan awal kembali untuk menyusun strategi program selanjutnya.

Dimulai tanggal 24 Maret 2016, Evaluasi kinerja (Evkin) bagi seluruh Fasilitator P2KKP Sumsel dilakukan secara bergilir bertempat di kantor Korkot/Askot CD Mandiri masing-masing Kota/Kabupaten. Kegiatan Evaluasi Kinerja ini adalah kegiatan rutin yang dilakukan setiap tiga bulan sekali. Tetapi dalam pelaksanaannya di Evkin Triwulan 1 tahun 2016, kali ini dilakukan dengan metode Foccus Group Discussion (FGD) dimasing-masing Bidang (Senior Fasilitator, Sosial, Infrastruktur, Ekonomi).


Evkin Faskel Sosial Korkot 1 Palembang Session 1
Evaluasi kinerja yang dilakukan secara FGD ini selain mendiskusikan capaian progres fasilitator masing-masing bidang, tetapi juga dijadikan sebagai ajang "pengakuan dosa" tentang pendampingan individu fasilitator ke masyarakat yang dilakukan , baik di tingkat Kelurahan, Kota dan Provinsi. "Selama ini pelaksanaan evaluasi kinerja dianggap menjadi hak prerogatif di tingkat Kota dan Provinsi, tetapi kali ini kita ingin semua duduk bersama untuk dapat melihat bagaimana wajah pendampingan P2KKP Sumsel. Bila wajahnya baik, maka bagaimana strategi agar yang baik tersebut dapat dipertahankan dan ditingkatkan. Tetapi bila ternyata wajah pendampingan kita masih belum baik, maka tak perlulah kita saling menyalahkan dan mencari kambing hitam karena hal tersebut, tapi carilah strategi bersama agar bisa menjadi lebih baik diwaktu mendatang", jelas Dodi Feriindra (Team Leader KMW Sumsel) memberikan kata sambutan di pembukaan Kegiatan Evkin.

Evkin Faskel Sosial Korkot 2 Prabumulih
Pelaksanaan Evkin yang partisipatif disambut baik semua fasilitator, khususnya di Bidang Sosial. FGD berlangsung cukup menarik, Penilaian kinerja masing-masing fasilitator sosial diungkapkan secara terbuka dengan harapan semua bisa melakukan penilaian terhadap dirinya sendiri apakah sesuai atau pantas dengan penilaian yang diberikan. Masing-masing Fasilitator Sosial tak ada yang ragu mengemukakan pendapatnya pada diskusi mengenai issue bahwa Fasilitator Sosial sering dianggap tak mempunyai andil besar dalam tim. "Kami tidak bisa terima pendapat tersebut, karena fasilitator sosial sangat berperan dalam setiap bidang. Tetapi kami cukup menyadari, karena tugas fasilitator sosial yang tidak bersifat teknis layaknya fasilitator Teknik dan Ekonomi, maka kinerjanya sulit dilakukan penilaian", ujar Lolan Angga Candra (Fasilitator Sosial TF-15 Korkot 2 Kota Prabumulih).

Evkin Tim Faskel Korkot 3 Muara Enim
Peran Fasilitator Sosial  dalam melakukan Sosialisasi dan Pengembangan Kapasitas Masyarakat pun menjadi bahasan diskusi yang menarik, salah satunya tentang begitu dinamisnya pergantian nama program. "Walau kami yakin ini tantangan bagi fasilitator sosial, tetapi pergantian nama program yang berkali-kali membuat kami khawatir masyarakat akan menjadi bingung dengan program ini. Karena efek pergantian nama juga berimbas langsung terhadap administrasi Keorganisasian LKM, seperti stempel LKM, kop surat, papan nama, dan lain sebagainya", ujar Siti Fadillah (Fasilitator Sosial TF-07 Korkot 1 Kota Palembang).

Evkin Faskel Sosial Korkot 3 Pagaralam
Berbeda Evkin di Fasilitator Sosial Korkot 4 Kota Lubuklinggau, Media Warga dan Best Practice menjadi bahasan hangat FGD. Mulai dari evaluasi substansi media warga yang seharusnya merupakan media dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat tetapi dalam prakteknya terkadang disusupi oleh aturan-aturan tak baku yang menjadikan media warga itu sendiri belum merupakan media sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sampai dengan bedah substansi best practice yang sering menjadi "momok" bagi fasilitator yang memiliki wilayah dampingan belum "Best". "Pemahaman kami terhadap best practice ternyata masih terkurung akan makna best practice itu sendiri, karena arti katanya praktik baik, maka kami berpikir best practice hanya ada di kelurahan/desa yang terbaik saja padahal setelah direview kembali dari fungsi best practice itu sendiri yaitu "Good Idea" yang memuat aktivitas pendampingan inovatif yang keluar dari aturan baku (out of the box) tapi tak menyalahi aturan baku dan bisa digunakan sebagai referensi pembelajaran bagi yang lain", ujar Firhes Guslica (Fasilitator Sosial TF-22 Korkot 4 Kota Lubuklinggau).

Evkin Faskel Sosial Korkot 4 Lubuklinggau
Di Evkin Fasilitator Sosial Korkot 3 Kota Pagaralam, Pengelolaan Pengaduan Masyarakat (PPM) pun menjadi bahan yang renyah untuk didiskusikan. Keberadaan kotak pengaduan masyarakat yang belum termanfaat dengan baik pun didiskusikan. "Masyarakat sekarang sudah enggan menulis pengaduan dan memasukkannya ke kotak pengaduan, sekarang jamannya teknologi canggih, karena itu kenapa tidak kita pun berpikir out of the box dengan menggunakan teknologi sebagai media PPM, seperti sms, email, atau membuat akun Facebook, BBM, WA, dll sebagai media penyampaian pengaduan. Masyarakat di-upgrade, kenapa kita tidak meng-upgrade juga pendampingan", ujar Rahmad Febrianto (Fasilitator Sosial TF-17 Korkot 3 Pagaralam) bersemangat.

Evkin di masing-masing kota/kabupaten memberi angin segar pendampingan program khususnya bagi Fasilitator Sosial. Keakraban selaku tim kental terlihat. Kesadaran untuk meng-upgrade diri, berpikir out of the box, Inovatif dan tak segan berbagi dalam melakukan pendampingan masyarakat di program memberi aura positif menyambut program selanjutnya, yaitu Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU).

Dokumentasi Lainnya:

Evkin Faskel sosial Korkot 5 OKI

Evkin Faskel Sosial Korkot 5 OKU
Evkin Faskel Sosial Korkot 1 Palembang Session 2
Evkin Faskel Sosial Korkot 1 Palembang Session 3

Senin, 21 Maret 2016

Kliping: BPKP Mengapresiasi Hasil Kerja Tim 35 P2KKP Baturaja

Harian Independent Post - BATURAJA - Dalam pelaksanaan Audit BPKP kepada Tim 35 P2KKP Baturaja untuk tahun anggaran 2015 dan mendapat apresiasi yang baik oleh Tim Audit BPKP, setelah melakukan pemeriksaan sampling lokasi audit di 3 (tiga) Tim yang ada di Kota Baturaja OKU, yakni Tim 33, Tim 34 dan Tim 35 dengan wilayah kecamatan Baturaja Timur dan Barat.

Turut serta mendampingi dalam kegiatan pemeriksaan tersebut seluruh fasilitator P2KKP ke 3 Tim, termasuk SF masing-masing serta perwakilan dari LKM dan Up-Up LKM Kelurahan/desa lokasi sampling audit.

Menurut Askot CD Mandiri Baturaja dalam hal ini diwakili oleh Rudi Haryanto sebagai SF Tim 35 kepada INPO beberapa waktu yang lalu. Tim Audit BPKP mengambil sampling 3 kelurahan/desa yang dimulai sejak tanggal 02 s/d 04 Maret 2016. Untuk Tim 33 yang diaudit adalah kelurahan Tanjung Agung, kelurahan Batu Kuning dan Desa karang Agung sedangkan Tim 34 yang diaudit adalah kelurahan Baturaja Lama, Sukaraya dan Desa Tanjung Kemala. Selanjutnya Tim 35 terakhir yang diaudit adalah Kelurahan Sepancar Lawang Kulon - Baturaja Timur dan Desa Sukamaju - Baturaja Barat.

Baca Selengkapnya di kliping berikut:

 
Sumber: Independent Post
Edisi: Rabu, 09 Maret 2016
Judul: BPKP Mengapresiasi Hasil Kerja Tim 35 P2KKP Baturaja
Disampaikan Oleh:
Pandrisman Jaya, SE
Askot Manajemen Keuangan Korkot 5 Kabupaten OKU
P2KKP OC-02 Sumatera Selatan
Facebook: P Jay Qsam

Rabu, 30 September 2015

100 KSM PPMK Kabupaten OKU ikuti Pelatihan Vocational PPMK P2KKP

P2KKP OKU - Usaha mikro kecil dan menengah merupakan usaha yang berperan penting dalam perkembangan atau pertumbuhan ekonomi nasional dan penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan data bps situasi ketenagakerjaan kabupaten Ogan Komering Ulu pada tahun 2011-2013 menunjukan penurunan yang ditandai dengan semakin turunnya tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) yaitu dari 70,46 persen pada tahun 2011, terus turun hingga menjadi 57,88 persen pada tahun 2013. (BPS kab OKU 2014).

Penurunan TPAK 2013 diimbangi dengan meningkatnya tingkat kesempatan kerja yang dilihat dari banyaknya angkatan kerja yang tertampung dalam pasar kerja. Berdasarkan data BPS yang menunjukan adanya penurunan tingkat penduduk usia ekonomi aktif untuk mencari pekerjaan atau melakukan suatu kegiatan ekonomi tidak terlepas dari banyaknya usaha-usaha yang menyerap tenaga kerja.

Sektor industri pengolahan merupakan salah satu sektor penyumbang terbesar terhadap perekonomian kabupaten ogan komering ulu. Industri pengolahan di kabupaten ogan komering ulu dibentuk dari tujuh kelompok industri non migas yaitu kelompok industri makanan, minuman dan tembakau, kelompok industri tekstil, barang kulit dan alas kaki, industri barang kayu dan hasil hutan lainnya, kelompok industri kertas dan barang cetakan, kelompok industri pupuk, kimia dan barang dari karet, industri semen dan barang galian bukan logam, serta kelompok industri alat angkutan mesin dan peralatannya (BPS kab OKU 2014)  


Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat peran Subsektor Makanan, Minuman dan Tembakau memiliki peranan yang cukup tinggi pada industri pengolahan yang menjadi penyumbang terbesar terhadap perekonomian kabupaten ogan komering ulu. Seperti halnya usaha yang dilakukan KSM PPMK yang didominasi dengan usaha produktif seperti makanan, minuman, kerajinan dan lain sebagainya turut menyumbang atas perkembangan industri pengolahan yang telah berpengaruh terhadap perekonomian Kabupaten Ogan Komering Ulu.

Melihat sejarah perkembangan PPMK dari awal pembentukan hingga berjalan sampai sekarang menjelaskan bahwa program PPMK merupakan program yang sangat membantu masyarakat miskin dalam hal permodalanusaha. Adanya PPMK secara tidak langsung memberikan efek positif untuk perkembangan dan kemajuan usaha yang mereka jalani sehingga usaha yang awalnya sederhana dapat berubah menjadi usaha yang besar dan mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.

Melihat tujuan PPMK itu sendiri yakni Menguatkan kegiatan usaha KSM secara mandiri dan berkesinambungan yang berorientasi pada peningkatan penghidupan masyarakat miskin maka dasar dasar kegiatan yang dilakukan dalam program PPMK adalah dengan proses pemberdayaan yang lebih ditujukan untuk meningkatkan keahlian dan keterampilan KSM sehingga kelompok swadaya masyarakat yang tergabung di dalam program PPMK menjadi lebih mandiri.

Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, PPMK memberikan akses kepada KSM PPMK tentang apasaja kebutuhan yang diperlukan dalam upaya memajukan kegiatan usahanya. Salah satunya yaitu dengan melakukan kegiatan pelatihan Vocational. Pelatihan ini dilakukan dalam rangka menggali masalah yang ada di kelompok swadaya masyarakat terkait dengan usaha yang dijalankannya.

Kegiatan pelatihan Vocational KSM PPMK yang dilaksanakan akhir Agustus 2015 mendapat respon positif dari setiap anggota KSM PPMK. Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari bertempat di aula kantor camat Baturaja Timur dihadiri oleh peserta lebih kurang 100 orang yang merupakan KSM PPMK dan Narasumber dari Bank Mandiri, Dinas Koperasi, Dinas perizinan serta Pengusaha sukses yang juga merupakan KSM PPMK. Antusiasme para peserta dapat dilihat dari banyaknya pertanyaan yang ditanyakan kepada narasumber oleh para peserta pelatihan. 

Pertanyaan yang muncul dari para peserta pelatihan tidak lain tentang keberlanjutan usaha yang mereka jalankan, mulai dari tambahan modal, pemasaran produk, perizinan usaha, mitra kerja dan lain sebagainya yang berkaitan dengan kemajuan usaha.

Dengan adanya pelatihan vocational KSM PPMK ini diharapkan mampu mengatasi dan setidaknya sedikit meringankan beban para anggota KSM PPMK dalam menjalankan usahanya baik berupa modal maupun hal lain yang berkaitan dengan kebutuhan usaha sehingga mampu meningkatkan perkembangan usaha menjadi lebih baik dan bernmanfaat bagi masyarakat.

Ditulis Oleh: 
Ahmad Fatoni, SE
Fasilitator Ekonomi TF- 35 Korkot 5 OKU 

Kamis, 30 April 2015

Nikmat dan Gurih Keripik Singkong Pak Sun

“Kalu sudah nyicip, biasonyo banyak yang nak beli, langsung be aku keluarin keripik singkong yang terus dibawa kemano be itu”, ujar ibu Neti tertawa renyah sembari menjelaskan kalau dia sangat percaya semakin luas jalinan silaturahmi, maka rezeki juga akan semakin luas.

Bahan Baku Kripik singkong
Baturaja (OKU)  - Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM Mandiri Perkotaan) dilaksanakan dengan tujuan mencapai keberlanjutan perbaikan kesejahteraan masyarakat miskin melalui proses pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan dengan menerapkan pendekatan pengokohan kelembagaan masyarakat di tingkat basis yang disebut Badan Keswadayaan Masyarakat/Lembaga Keswadayaan Masyarakat (BKM/LKM). (Pedoman Teknis PPMK 2014:I

Salah satu komponen program yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut yaitu Program Peningkatan Penghidupan Masyarakat Berbasis Komunitas (PPMK). Program PPMK merupakan pengembangan dari program sebelumnya yang difokuskan pada penguatan KSM dalam rangka peningkatan penghidupan masyarakat. 

Kelurahan Sekarjaya merupakan salah satu kelurahan di kecamatan Baturaja Timur Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) yang mendapatkan program PPMK tahun 2014. Tingkat pengembalian pinjaman yang lancar dari Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang tergabung dalam program ekonomi bergulir merupakan kunci keberhasilan Unit Pengelola Keuangan (UPK) dan LKM Jaya Bersama kelurahan Sekarjaya dalam mendapatkan program PPMK. Karena Program PPMK merupakan program naik kelas dimana program ini di khususkan untuk masyarakat miskin yang memiliki usaha produktif yang dapat ditumbuh kembangkan menjadi suatu usaha yang menjanjikan.

Salah satu KSM PPMK yang mengakses dana PPMK dan telah mengikuti runutan pelatihan PPMK yaitu KSM Durian yang beralamat di RS. Sriwijaya RT.22/RW.04 kelurahan Sekarjaya kecamatan Baturaja Timur. Dengan dimotori oleh Ibu Neti Hardani selaku ketua, KSM Durian yang merupakan KSM dengan aneka usaha dan beranggotakan 5 orang  mengaku sangat terbantu dan merasakan manfaat yang besar  dengan adanya program PPMK. Pelatihan-pelatihan yang diikuti menjadi  modal serta ilmu pengetahuan tentang pengembangan usaha, pengelolaan keuangan, pencatatan transaksi usaha, bermitra dan lain sebagainya dan pastinya banyak memberikan perubahan positif terhadap perkembangan usahanya anggota KSM durian khususnya usaha “Keripik Singkong” yang menjadi  usaha andalan Ibu Neti saat ini. Dengan berbahan baku singkong yang mudah diperoleh di pasar dan harganya murah, dengan kecekatan dan keahliannya, Ibu Neti mampu mengolahnya menjadi makanan camilan yang nikmat  dan gurih serta cocok untuk dikonsumsi seluruh anggota keluarga kala bersantai.

proses pembuatan kripik singkong Pak Sun
Sebelum mendapat tambahan modal PPMK, usaha keripik singkong ibu Neti perkembangannya tak begitu membahagiakan, “Kalau pacak balek modal be lah syukur, itupun kalau untung dapetnyo dak seberapo”, ujar ibu Neti menjelaskan. Keripik singkong ibu Neti saat itu dikemas dengan sangat sederhana di dalam bungkus plastik tanpa label, dan jangkauan pemasarannya pun hanya sebatas dititipkan ke warung-warung yang ada di dekat rumah.

Berkat tambahan modal PPMK yang diterima Ibu Neti sebesar Rp.5.000.000,- kini usaha keripik singkong Ibu Neti tberkembang pesat dan mampu bersaing terhadap produk-produk persaingnya. Ketika ditanya apa kunci suksesnya, ibu Neti menjelaskan selain karena ketekunan untuk berusaha, ibu Neti juga melakukan strategi pemasaran yang cukup unik yaitu, Ibu Neti tak pernah bosan melakukan promosi produknya dengan cara sederhana yaitu rajin menemui beberapa teman dan tak segan saat bertemu meminta untuk mencicipi kripik singkong buatannya. “kalu sudah nyicip, biasonyo banyak yang nak beli, langsung be aku keluarin kripik singkong yang terus dibawa kemano be itu”, ujar ibu Neti tertawa renyah sembari menjelaskan kalau dia sangat percaya semakin luas jalinan silaturahmi, maka rezeki juga akan semakin luas. 

Selain hal tersebut, tidak jarang munculnya ide-ide kreatif diperoleh nya dari setiap pertemuan rutin yang dilakukan oleh anggota KSM Durian setiap bulannya. Selain membahas perkembangan usaha, masing-masing anggota pun menjadikan setiap pertemuan sebagai tempat curhat tentang usaha. “Dari pertemuan ini, dengan saran teman-teman, ibu akhirnya mendapat ide untuk menambah varian rasa kripik singkong dan memberi label dengan mendaftarkannya ke dinas kesehatan”, jelas ibu Neti sambil tersenyum.

Dengan memakai nama sang suami, kini usaha keripik singkong ibu Neti telah terkenal dengan nama Keripik Singkong Pak Sun. Pilihan rasanya pun sudah banyak, selain rasa original ia juga menyediakan rasa balado dan cabe hijau bagi konsumennya yang suka dengan cita rasa pedas.

Ibu Neti Memamerkan Produk Usahanya
Pelatihan-pelatihan PPMK yang ia ikuti pun mempunyai andil atas perkembangan usahanya, karena dari sana ia merasa wawasannya tentang berusaha pun menjadi berkembang. “Disetiap pelatihan kami dienjuk tau caro-caro mengembangkan usaha, caro penyampaian fasilitatornyo yang make bahaso daerah jugo lemak, kami jadi dak sungkan dan malu nanyo kalu belum ngerti”, jelas Ibu Neti sembari memperagakan bagaimana fasilitator memandu pelatihan.

Perjalanan usaha Ibu Neti telah berjalan kurang lebih 5 bulan setelah mendapat dana Bantuan PPMK, karena permintaan konsumen yang semakin meningkat, maka ibu Neti pun menjalin kerja sama dengan petani singkong di daerah Trans Batumarta. “Selain karena kita perlu bahan baku yang semakin banyak, kalau langsung dengan petani, harga singkongnya tak semahal harga di pasar”, ujarnya menjelaskan.

Sekarang usaha keripik singkong ibu Neti telah mempekerjakan 2 orang pekerja untuk membantu proses produksinya. Rencana selanjutnya ibu Neti akan semakin mengembangkan usahanya dengan melakukan mitra dengan mini market atau mall yang ada di kota Baturaja. “Kalu rencana ini berhasil, ibu akan cubo pasarke jugo ke luar Kota Baturaja”, ujar ibu Neti selalu bersemangat. (edited: Amibae)

 





Rabu, 15 April 2015

Selasa, 17 Maret 2015

Pengelolaan Pengaduan Masyarakat LKM Jaya Bersama Kelurahan Sekar Jaya


Plat Decker yang rusak
Baturaja - Pengelolaan Pengaduan Masyarakat (PPM) adalah suatu rangkaian kegiatan untuk menampung dan menindaklanjuti aduan dari masyarakat maupun pelaku PNPM MP yang berkaitan dengan pelaksanaan PNPM MP ditingkat lapang. PPM perlu ada di setiap wilayah pnpm dikarenakan sebagai wadah aspirasi masyarakat dan sebagai kontrol sosial terhadap pelaksanaan PNPM MP.   

LKM Jaya Bersama Kelurahan Sekar Jaya merupakan salah satu LKM  yang mendapat program PNPM MP juga membentuk unit pengelola pengaduan masyarakat. Salah satu bentuk pengaduan masyarakat adalah : pengaduan dibidang infrastruktur. Dimana salah satu KSM yang membangun Plat Decker di RT 12 RW 04 melaporkan bahwa bangunan plat decker tersebut patah dan amblas sebagai akibat dilalui dump truck yang tonasenya melebihi ketentuan kelas jalan.

Menindaklanjuti laporan tersebut, PK LKM Jaya Bersama beserta UPL dan Fasilitator tehnik segera turun kelapang dan mengecek kondisi kerusakan tersebut. Dari identifikasi di lapang terdapat kerusakan sangat parah sehingga hanya dapat diselesaikan dengan melakukan pembangunan ulang.  Dari volume yang dibangun sepanjang 6 M X 1,8 M terdapat kerusakan kurang lebih 50%nya. 
Dengan Mediasi PK LKM Jaya Bersama, KSM Sawit 2 selaku pelaksana dan Organisasi pemelihara (OP) di RT tersebut dan pemilik mobil dump truck melakukan musyawarah untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Dari musyawarah tersebut didapatlah kesepakatan bahwasanya pihak mobil dump truck bersedia mengganti kerusakan tersebut dan KSM secara bersama dengan OP melakukan gotong royong untuk mengerjakan pengecoran plat decker tersebut tersebut kembali. Dengan demikian permasalahan tersebut telah diselesaikan dengan baik.

Plat Decker yang sudah diperbaiki
Belajar dari permasalahan tersebut pengelolaan PPM di LKM Jaya Bersama telah berjalan dengan baik, karena disamping sebagai wadah kontrol sosial masyarakat PPM sekar jaya secara tidak langsung telah membawa penyadaran kritis masyarakat kearah penyelesaian masalah. (Edited: Amibae)

 










Jumat, 07 November 2014

Mengais Rejeki Lewat Pembibitan Karet

Tak perlu  berpikir terlalu jauh dalam membuat usaha. Dengan mampu membaca potensi untuk mengatasi permasalahan, Dewi Hosyati dan Susianah Mampu meningkatkan taraf hidupnya. 

Baturaja (OKU) - Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perkotaan merupakan salah satu upaya pemerintah untuk membangun kemandirian masyarakat dan Pemerintah Daerah dalam menanggulangi kemiskinan dengan menerapkan pendekatan pengokohan kelembagaan masyarakat berbasis Tridaya.
Setiap Daerah memiliki berbeda-beda budaya, karakter sosial, ekonomi, politik, geografis dan demografi. Pengalaman dalam penanggulangan kemiskinan di suatu daerah belum tentu dapat berjalan di daerah yang berbeda. Sehingga diperlukan suatu kajian dan proses dalam membaca karakteristik permsalahan kemiskinan tanpa meninggalkan modal social yang telah ada.


 Demikian juga di Kelurahan Sepancar Lawang Kulon Kecamatan Baturaja Timur Kabupaten Ogan Komering Ulu. Kelurahan yang berada di ujung Timur Kota Baturaja ini berusaha untuk keluar dari kemiskinan tanpa tergerus oleh arus modernisasi dengan tetap mempertahankan budaya dan kekayaan di Kelurahannya.
 Hal ini dibuktikan oleh KSM Anggrek II LKM Bina Karya Mukti Kelurahan Sepancar Lawang Kulon. KSM yang beranggota 5 (lima) orang dengan di ketuai oleh Martuwinty terdiri dari 4 anggota yaitu: Heni kristian,  Dewi Hosyati, Susianah dan Sumarsih. Berbagai macam usaha yang dikelola seperti oleh KSM ini, yaitu: Usaha bangsal bata, pembibitan karet, rias pengantin, kolam pemancingan.
Susianah dan Dewi Hosyati selaku anggota KSM Anggrek II mampu membaca potensi, bahwa sebagian besar wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) merupakan wilayah perkebunan karet, karena itu peluang ini diambil olehnya dengan berusaha melakukan pengelolaan Pembibitan Karet.
Pembibitan karet merupakan usaha yang menjadi mata pencaharian masyarakat kelurahan Sepancar Lawang Kulon. Letak geografis yang mendukung untuk mengelola usaha ini juga menjadi alasan mengapa banyak warga yang melakukan pembibitan karet. Seperti halnya usaha pembibitan karet yang kami lakukan ini sudah berjalan lebih kurang selama 5 tahun dengan putaran usaha bulanan dan sistem penjualannya pesanan, ujar Dewi Hosyati menjelaskan dengan diiringi anggukan kecil oleh Susianah.
Setiap bulan, Dewi Hosyati dan Susianah menerima hasil penjualan 5 (lima) jutaan, dimana dari 5 juta tersebut keuntungan bersihnya mencapai 1-2 juta rupiah perbulan, selebihnya untuk digunakan untuk perputaran modal usaha.
Dengan adanya bantuan dana PPMK  usaha pengeloaan pembibitan karetnya pun semakin berkembang, yang awalnya hasil penjualan hanya sekitar 5 juta perbulan, sekarang penghasilan Ibu Susianah dan Ibu Dewi menjadi 7-8 juta rupiah.
“Kami hanya melihat peluang disekitar kami, karena banyak yang berkebun karet, maka kami menyiapkan bibitnya. Tapi ternyata hal ini bisa meningkatkan taraf kehidupan”, ujar Susianah sembari tersenyum lega. (Edited: Amibae)

Sponsor

Sponsor